Minggu, 02 Februari 2014

tentang BALAGHAH


DEFINISI BALAGHAH

والبلاغةُ في اللغةِ: الوصولُ والانتهاءُ. يُقالُ: بلغَ فلانٌ مُرادَه، إذا وَصَل إليه، وبلَغَ الرَّكْبُ المدينةَ، إذا انْتَهى إليها. وتَقَعُ في الاصطلاحِ وصْفًا للكلامِ والمتكلِّمِ

Balaghah menurut bahasa: wushul (sampai) yakni intiha (akhir penghabisan). contoh: BALAGHA FULAANUN MUROODUHU (si fulan sudah sampai pada tujuannya) bilamana sifulan sudah mencapainya. contoh lagi: BALAGHA AR-ROKBU AL-MADIINATA (pengendara2 itu sudah sampai di kota) bila sampai di akhir batas perjalanannya di kota.
Balaghah menurut isitlah : sifat bagi kalam (kalimat baligh) dan mutakallim (pembicara baligh)[1]
.
Adapun istilah lain ilmu balaghah adalah ilmu untuk menerapkan (mengimplementasikan) makna dalam lafazh-lafazh yang sesuai (muthabaaqah al-kalaam bi muqtadhaa al-haal).[2] llmu Balaghah adalah ilmu yang mengungkapkan metode untuk mengungkapkan bahasa yang indah, mempunyai nilai estetis (keindahan seni), memberikan makna sesuai dengan muktadhal hat (situasi dan kondisi), serta memberikan kesan sangat mendalam bagi pendengar dan pembacanya.[3]
Ilmu Balaghah terbagi menjadi 3 bagain:
1.      Ilmu Ma’ani: ilmu yang mempelajari susunan bahasa dari sisi penunjukan maknanya, ilmu yang mengajarkan cara menyusun kalimat agar sesuai dengan muqtadhaa al-haal.
2.      Ilmu Bayan: ilmu yang mempelajari cara-cara penggambaran imajinatif. Secara umum bentuk penggambaran imajinatif itu ada dua. Pertama, penggambaran imajinatif dengan menghubungkan dua hal. Kedua, penggambaran imajinatif dengan cara membuat metafora yang bisa diindera.
3.      Ilmu Badii’: ilmu yang mempelajari karakter lafazh dari sisi kesesuaian bunyi atau kesesuaian makna. Kesesuaian tersebut bisa dalam bentuk keselarasan ataupun kontradiksi.[4]
.Ilmu Bayan
Ilmu Bayan adalah ilmu yang menjelaskan seluk beluk bahasa Arab dimulai dari mengetahui uslub (ragam bahasa) puisi dan prosa.[5] Serta pengetahuan tentang berbagai arti dan maksud yang termuat di dalam Alquran.
ilmu yang menetapkan beberapa peraturan dan kaedah untuk mengetahui makna yang terkandung dalam kalimat penemunya adalah Abu Ubaidah yang menyusun pengetahuan ini dalam “Mujazu Al-Quran” kemudian berkembang pada imam Ahu T ,qahir disempurnakan oleh pujangga-pujangga Arab lainnya seperti AI-Jahiz, .lbnu Mu’taz, Qaddamah dan Abu Hilal Al- Asikari. Dengan ilmu ini akan diketahui rahasia bahasa arab dalam prosa dan puisi, keindahan sastra Al-Quran dan Hadist.[6]
Ilmu Bayan terdiri dari 3 Pembahasan :
1.       Majaz juga dikenal dalam bahasa Indonesia yang berarti makna kiasan atau figuratif meaning (pemakian kata – kata yang bukan pada arti yang sebenarnya) Contoh Artinya : seorang pemberani berpidato di depan kita Ditinjau dari padanan peristilahan semantik bahasa Indonesia majaz ini termasuk gaya bahsa Hiperbola dalam kelompok gaya bahsa pertentangan.[7] Penggunaan suatu kata dengan makna yang lain daripada maknanya yang lazim. Kebalikan dari majaz ialah haqiqah.


Majaz ada dua macam :
a.       Majaz Mursal : majaz yang tidak dibangun diatas tasybih yaitu Perkataan yang tidak menunjukkan maknanya yang sebenar atau yang mempunyai maksud tersirat pendek kata, untuk mempelajari Majaz Mursal mesti mengetahui makna setiap perkataan dalam Bahasa Melayu. Mempunyai hubungan kait dengan makna sebenar dari segi sifat, bentuk dan sebagainya.
b.      Majaz Isti’arah : majaz yang dibangun diatas tasybih, atau penggunaan kata  tidak dalam makna haqiqinya karena adanya hubungan keserupaan (syibh) antara makna yang dipakai tersebut dan makna haqiqinya
Isti’arah Tashrihiyah : mengemukakan maksud musyabbah dengan menggunakan lafazh musyabbah bih, dan setiap orang mesti akan memahami bahwa maksud yang sebenarnya ialah musyabbah berdasarkan konteks kalimatnya. Dalam hal ini sang penutur menggunakan musyabbah bih dengan menghilangkan musyabbahnya. Konteks kalimat harus benar-benar menunjukkan bahwa musyabbah bih tidaklah digunakan dalam makna hakikinya, tetapi sebaliknya yakni mengandung makna musyabbah. Indikasi yang demikian ini disebut sebagai qarinah al-isti’arah
Isti’arah Makniyah : Dalam isti’arah ini, musyabbah bih tidak muncul dengan jelas akan tetapi sedikit samar. Lafazh yang menunjukkan isti’arah dengan demikian bukanlah lafazh musyabbah bih melainkan lafazh-lafazh yang mengiringinya atau lafazh-lafazh yang menunjukkan sifat-sifatnya. Lafazh-lafazh ini dinisbatkan kepada musyabbah bih. Jadi, tasybih yang ditimbulkan bersifat mudhmar didalam pikiran. Apabila suatu isti’arah makniyah menyerupakan sesuatu dengan manusia maka ia disebut tasykhish (personifikasi).




1.      Tasybih : uslub yang menunjukkan perserikatan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam sifatnya. Rukun-rukun atau unsur-unsurnya ialah :
a.       Musyabbah: obyek yang ingin disifati
b.      Musyabbah bihi: sesuatu yang dijadikan sebagai model untuk perbandingan
c.       Wajh al-syibh : sifat yang terdapat dalam perbandingan
d.      Aadaat al-tasybih: kata yang dipakai untuk menunjukkan adanya tasybih. Bisa berupa huruf (kaaf, ka-anna), fi’il (hasiba, zhanna, khaala, dsb), atau isim (matsal, syibh, syabiih,dsb).
Tasybih Baliigh: tasybih yang unsur-unsurnya tinggal dua saja yaitu musyabbah dan musyabbah bih
Tasybih Tamtsili (Tasybih al-Tamtsil, Matsal): jenis tasybih yang wajh al-syibh nya murakkab dari beberapa sifat, dan biasanya aqli.
Tasybih Dhamni: tasybih yang dipahami dari siyaq (konteks) kalimat, dan biasanya dilakukan dengan dua jumlah atau lebih sebagai ganti dari satu jumlah.
Tasybih Maqlub (Tasybih Yang Dibalik):  Asalnya, sifat yang ada pada musyabbah bih mesti lebih kuat daripada sifat pada musyabbah. Namun dalam tasybih maqlub, kondisi tersebut dibalik yakni sifat yang ada pada musyabbah lebih kuat daripada yang ada pada musyabbah bih. Pembalikan ini dilakukan untuk tujuan mubalaghah, yakni untuk menunjukkan bahwa sifat yang ada pada musyabbah sudah sangat kuat dan agar perhatian memang tertuju pada musyabbah.
Tujuan-tujuan Tasybih :
Secara umum tujuan tasybih ialah untuk menjadikan suatu sifat lebih mudah diindera. Adapun secara terperinci tujuan-tujuan tasybih ialah :
1) Bayaan miqdaar al-shifat (menjelaskan kualitas sifat)
2) Taqriir al-shifat (meneguhkan sifat)
3) Tahsiin al-musyabbah (memperindah musyabbah)


4) Taqbiih al-musyabbah (memperburuk musyabbah)
5) Tashwiir al-musyabbah bi shuurah al-thariifah
6) Itsbaat qadhiyyah al-musyabbah
3.Kinayah
Kinayah (gaya bahasa Antonomasia) adalah gaya bahasa yang mengandung makna kiasan dan
sindiran. Kinayah ini dibagi kepada dua bahagian yakni :
a.    Kinayah Sifat : suatu sindiran yang ditujukan untuk menyatakan sifat seseorang.
Contoh :
/Thawilu n-najadi rafi’u l-imadi kastiru r-ramadi iza ma syata/
Banyak pertolongan ringan pekerjaan banyak api unggun di musim dingin.
Tujuan sindiran ini menyatakan sifat tolong menolong itu diperlukan di setiap keadaan.

b.    Kinayah Mausuf sindiran yang ditujukan kepada seseorang. Contoh :/Qara’ a fulanun sinnuhu / Sipulan telah menggerakan giginya, sindiran kepada seseorang yang sudah benar-benar marah.

Kinayah : penunjukan terhadap suatu makna yang dimaksud dengan secara tidak langsung, dimana lafazh yang dipakai tidak sampai keluar dari makna haqiqinya ke makna majazinya.
Macam-macam kinayah :
1) Kinayah dari shifat
2) Kinayah dari dzat
3) Kinayah dari nisbah






BALAGHAH


TUGAS INDIVIDU
 (makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah BALAGHAH)
Dosen Pembimbing:
BU Hj. Rumadani Sagala
http://www.iainlampung.ac.id/radenintan/images/stories/logo_iain.png
        DISUSUN OLEH:
SANTOSA LAHI SAPUTRA   : 1111020056

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
TAHUN 2013








RPP contoh

Contoh RPP PAI dan Budi Pekerti SD
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Nama Sekolah                    :    SD ....
Mata Pelajaran                   :    Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti
Tema                                   :    Kasih Sayang
Subtema                              :    Kasih sayang Nabi Muhammad saw
Kelas                                    :    I (Satu)
Semester                              :    1 (Ganjil)

A.      Materi Pokok
Kisah keteladanan dan kasih sayang Nabi Muhammad saw

B.       Alokasi Waktu               
1 x 4 jam pelajaran

C.      Kompetensi Dasar         
2.4     Memiliki sikap pemaaf sebagai implementasi dari pemahaman kisah keteladanan Nabi Muhammad SAW
3.12   Mengetahui kisah keteladanan Nabi Muhammad saw.
4.12   Menceritakan kisah keteladanan Nabi Muhammad saw.


D.      Indikator Pencapaian Kompetensi
3.12.1.Menceritakan kisah singkat Nabi Muhammad saw
3.12.2. Menyebutkan kasih sayang Nabi Muhammad saw
4.12.1 Menjelaskan sikap kasih sayang Nabi Muhammad saw
4.12.2  Menunjukkan perilaku kasih sayang Nabi Muhammad saw

E.       Tujuan Pembelajaran
Melalui metode inquary learning (C) peserta didik (A) dapat:
1. Menceritakan (B) kisah singkat Nabi Muhammad saw dengan benar;
2. Menyebutkan (B) kasih sayang Nabi Muhammad saw dengan benar;
3.Menjelaskan (B) sikap kasih sayang Nabi Muhammad saw
4.Menunjukkan minimal dua perilaku (D) kasih sayang Nabi Muhammad saw dengan benar.

F.       Materi Pembelajaran
Kasih sayang Nabi Muhammad saw
Hari raya Idul Fitri telah tiba. Sejak pagi-pagi sekali, semua orang sibuk mempersiapkan pesta menyambut lebaran. Kota Madinah dipenuhi suasana gembira. Waktu pelaksanaan salalat Id semakin dekat. Tua-muda dengan mengenakan pakaian terbaru mereka pergi menuju lapangan. Anak-anak turut beserta orangtua mereka, bermain dan bercanda di tempat yang agak jauh dari orang dewasa. Suasana di sekitar lapangan semakin semarak dengan aroma wewangian yang melenakan dari pakaian yang melambai-lambai serta saputangan yang berkibar-kibar ditimpa riuh-rendah suara anak-anak yang tiada henti.
Usai salat Id anak-anak tampak sibuk mengucapkan selamat lebaran. Ketika Rasulullah SAW hendak pulang, beliau melihat seorang bocah bertubuh kurus memakai baju compang-camping, duduk sendirian di salah satu sudut lapangan sembari melelehkan air mata.
Rasulullah berjalan menghampiri anak tersebut, dengan penuh kasih sayang mengusap pundaknya dan bertanya, “Mengapa menangis, Nak?”
Si anak dengan marah menyingkirkan tangan Rasulullah dan berkata, “Tinggalkan aku sendiri! Aku sedang berdoa.”
Rasulullah membelai rambut bocah itu dan dengan suara yang penuh kelembutan beliau bertanya kembali, “Katakan padaku, Nak! Apa yang terjadi padamu?”
Bocah itu menyembunyikan wajah di antara kedua lututnya, lalu berkata,” Ayahku terbunuh dalam peperangan. Ibuku sudah nikah lagi dengan orang lain. Harta benda milikku dijarah orang. Aku hidup bersama dengan ibuku, tetapi suaminya yang baru telah mengusirku pergi. Hari ini semua anak-anak sebayaku bercanda dan menari-nari dengan mengenakan pakaian barunya, tetapi diriku? Aku tidak punya makanan yang kumakan dan tidak pula atap yang melindungiku.”
Air mata Rasulullah mulai menetes. Tetapi beliau mencoba untuk tetap tersenyum sembari bertanya, “Jangan bersedih anakku! Aku juga kehilangan ayah dan ibu saat aku masih kecil.”
Si anak menengadahkan kepalanya dan menatap Rasulullah, ia segera mengenali wajah itu dan ia pun merasa sangat malu. Dengan nada penuh kasih Rasulullah berkata, ”Jika aku menjadi ayahmu dan Aisyah menjadi ibumu, dan Fatimah saudaramu, apakah kamu akan merasa bahagia, anakku?” Si anak mengangguk, “Tentu.”
Rasulullah menggandeng tangan anak malang itu dan membawanya ke rumah. Beliau memanggil Aisyah, “Terimalah anak ini sebagai anakmu.” Aisyah memandikan anak itu dengan tangannya sendiri dan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Setelah memakaikan pakaian padanya, Aisyah berkata, “Sekarang pergilah Nak. Kamu bisa bermain dengan teman-temanmu, dan bila sudah kau rasa cukup, pulanglah.”
Si anak kembali ke lapangan seraya menari kegirangan. Teman-teman sebayanya keheranan melihat perubahan yang tiba-tiba pada dirinya. Mereka menghampirinya dan menanyakan kisahnya. Si anak malang itu menceritakan semua detail peristiwa yang barusan dialaminya bersama Nabi. Mendengar ceritanya, salah seorang temannya berkata dengan wajah cemberut, “Alangkah bahagianya hari ini bila ayah-ayah kita telah meninggal seperti ayahnya.”

G.      Metode Pembelajaran
Metode:
1.    TanyaJawab
2.    Inquary learning
3.    Diskusi

H.      Media Pembelajaran
Gambar/ Poster
Multimedia Interaktif/CD Interaktif /Video

I.         Sumber Belajar
Buku PAI dan Budi Pekerti PAI Kls I SD
Buku Kisah 25 nabi dan Rasul

J.        Langkah-langkah Pembelajaran

No.
Kegiatan
Waktu
1.
Pendahuluan
a.     Membuka pembelajaran dengan dengan salam dan berdo’abersama dipimpin oleh salah seorang peserta didik dengan penuh khidmat;
b.     Memulai pembelajaran dengan membaca al-Qur’ansurahpendek pilihan dengan lancar dan benar (nama surat sesuai dengan program pembiasaan yang ditentukan sebelumnya);
c.     Memperlihatkan kesiapan diri dengan mengisi lembar kehadirandan memeriksa kerapihan pakaian, posisi dan tempat duduk disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran;
d.    Guru menyapa peserta didik dengan memperkenalkan diri kepadapeserta didik.
a.     Mengajukan pertanyaan secara komunikatifberkaitan dengan tema kasih sayang dan sub tema kasih sayang Nabi Muhammad saw;
b.     Menyampaikan kompetensi dasar dan tujuan yang akan dicapai;
c.     Menyampaikantahapan kegiatan yang meliputi kegiatan mengamati, menyimak,menanya, berdiskusi, mengkomunikasikan dengan menyampailan, menanggapi dan membuat kesimpulan hasil diskusi

20 menit
2.
Kegiatan Inti
a.    Mengamati
·      mengamati gambar tentang ciptaan AllahSwt melalui tayangan media ICT/gambar
·      Menyimak kisah keteladanan nabi Muhammad saw secara klasikal maupun individual.
·      Mengamati gambar contoh keteladanan Nabi Muhammad saw baik secara klasikal atau individual

b.    Menanya
·      Melalui motivasi dari guru mengajukan pertanyaan tentang ketelaladanan Nabi Muhammad saw
·      Mengajukan pertanyaan terkait dengan keteladanan Nabi Muhammad saw

c.    Eksperimen/Explore
·      Peserta didik mengemukakan isi gambar tersebut
·      Secara berkelompok mendiskusikan perilaku terpuji yang terdapat pada kisah keteladanan nabi Muhammad saw
·      Secara berpasangan mendiskusikan isi gambar tentang keteladanan Nabi Muhammad saw baik secara klasikal maupun kelompok

d.    Asosiasi
·      diskusi kelompok tentang keteladanan Nabi Muhammad saw secara individual atau kelompok
·      Menguhubungkan kisah keteladanan Nabi Muhammad saw dengan sikap kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari

e.    Komunikasi.
·      Menyampaikan hasil diskusi tentang keteladanan Nabi Muhammad saw secara kelompok
·      Menanggapi hasil presentasi (melengkapi, mengkonfirmasi, menyanggah)
·      Membuat kesimpulan dibantu dan dibimbing guru


110 menit